oraminternational.org – 5 Risiko Screen Time Pada Anak yang Picu Usulan Batas 18 Tahun. Layar kini hadir di mana-mana. Anak bangun tidur langsung cari ponsel, makan sambil nonton, belajar sambil buka tab lain, bahkan sebelum tidur masih scroll tanpa henti. Kondisi ini membuat banyak orang tua, pendidik, hingga pemerhati kesehatan anak mulai angkat suara. Mereka tidak sekadar mengingatkan, tetapi bahkan mengusulkan pembatasan akses digital hingga usia 18 tahun. Usulan tersebut memang terdengar ekstrem. Namun, jika kita melihat dampak yang muncul, kekhawatiran itu tidak muncul tanpa alasan.
Perubahan Pola Emosi yang Meledak Tanpa Kendali
Pertama, screen time berlebihan sering memicu ledakan emosi pada anak. Ketika anak terlalu lama terpapar layar, otak terus menerima stimulasi instan dari video cepat, gim intens, dan konten yang bergerak tanpa henti. Akibatnya, anak terbiasa dengan respons cepat dan kepuasan instan. Ketika dunia nyata tidak memberi rangsangan secepat dunia digital, anak mudah frustrasi.
Mereka cepat marah, sulit sabar, dan sulit menerima penolakan. Selain itu, interaksi sosial di dunia nyata terasa membosankan dibandingkan interaksi digital yang penuh efek dan kejutan. Lebih jauh lagi, anak yang terlalu lama berada di depan layar sering menunjukkan tanda gelisah ketika jauh dari gadget. Mereka merasa kosong, cemas, bahkan kehilangan arah. Pola ini kemudian membentuk ketergantungan emosional yang serius.
Gangguan Konsentrasi dan Fokus yang Terpecah
Selain emosi, screen time juga memengaruhi kemampuan fokus anak. Saat anak terbiasa membuka banyak aplikasi sekaligus, otak belajar untuk melompat dari satu rangsangan ke rangsangan lain. Pola ini membuat anak kesulitan mempertahankan perhatian pada satu tugas dalam waktu lama. Misalnya, ketika anak belajar, notifikasi muncul.
Lalu ia membuka pesan, kemudian berpindah ke video pendek, lalu kembali ke tugas. Siklus ini terus berulang. Akibatnya, konsentrasi tidak pernah benar-benar terbentuk. Lebih lanjut, kebiasaan multitasking digital membuat anak sulit menikmati proses berpikir mendalam. Mereka ingin semua hal berlangsung cepat. Padahal, kemampuan fokus jangka panjang sangat penting untuk perkembangan akademik dan pemecahan masalah.
Pola Tidur Berantakan dan Energi Menurun
Selanjutnya, layar juga mengacaukan pola tidur anak. 5 Risiko Cahaya biru dari ponsel, tablet, dan komputer mengganggu produksi hormon melatonin yang mengatur rasa kantuk. Akibatnya, anak sulit tidur meski tubuh sebenarnya sudah lelah. Selain itu, banyak anak yang terus menonton atau bermain gim hingga larut malam.
Mereka menunda tidur demi satu video lagi atau satu ronde lagi. Kebiasaan ini membuat waktu istirahat berkurang drastis. 5 Risiko Kurang tidur memicu berbagai dampak lanjutan. Anak menjadi sulit fokus di sekolah, mudah tersinggung, dan kehilangan energi sepanjang hari. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi perkembangan fisik dan mental.
Minim Interaksi Sosial Nyata
Selain dampak fisik dan mental, screen time juga menggerus interaksi sosial langsung. 5 Risiko Anak yang terlalu sering berkomunikasi lewat layar cenderung kehilangan kemampuan membaca ekspresi wajah, memahami nada suara, dan merespons bahasa tubuh. Padahal, interaksi tatap muka membentuk empati dan kecerdasan sosial.
Ketika anak lebih nyaman berbicara lewat chat daripada berbincang langsung, perkembangan sosial bisa terhambat. 5 Risiko Lebih jauh lagi, anak yang terlalu sering berada di dunia digital sering merasa canggung dalam percakapan nyata. Mereka kesulitan memulai obrolan atau mempertahankan diskusi tanpa bantuan layar.

Risiko Paparan Konten Tidak Sesuai Usia
Terakhir, dunia digital tidak selalu ramah anak. 5 Risiko Meski banyak platform menyediakan pengaturan usia, konten sensitif tetap mudah muncul. Anak bisa menemukan kekerasan, pornografi, ujaran kebencian, hingga informasi menyesatkan hanya dengan beberapa klik. Ketika anak belum memiliki filter berpikir yang matang, mereka mudah menyerap informasi mentah-mentah.
Konten ekstrem bisa memengaruhi cara pandang, perilaku, bahkan nilai yang mereka pegang. Selain itu, algoritma sering menyajikan konten yang semakin intens berdasarkan riwayat tontonan. 5 Risiko Jika anak mulai menonton konten tertentu, sistem akan terus mendorong tema serupa tanpa mempertimbangkan kesiapan mental anak.
Kesimpulan
Screen time memang membawa manfaat, namun penggunaan berlebihan pada anak memicu berbagai risiko serius. 5 Risiko Ledakan emosi, gangguan fokus, pola tidur berantakan, minim interaksi sosial nyata, hingga paparan konten tidak sesuai usia menjadi alasan kuat munculnya usulan pembatasan akses hingga 18 tahun. Usulan tersebut mungkin terdengar drastis, tetapi kekhawatiran itu muncul karena dampaknya nyata. Anak membutuhkan ruang untuk tumbuh secara emosional, sosial, dan mental tanpa tekanan dunia digital yang terus bergerak cepat.
